- Advertisement -
Culture JapanJapanese Corner

Beberapa Langkah yang Harus Diperhatikan Saat Mampir ke Swalayan di Jepang

Beberapa Langkah yang Harus Diperhatikan Saat Mampir ke Swalayan di Jepang

IDNation.net – Konbini, bagi kalian yang cukup mengenal Jepang pasti kenal dengan istilah yang satu ini. Konbini adalah cara orang Jepang untuk menyebut toko swalayan seperti Lawson, Seven-Eleven, dan semacamnya. Walaupun hanya sebuah toko swalayan, tapi konbini sendiri bisa dibilang sebagai salah satu ikon unik milik Jepang. Para pembeli yang mampir ke konbini biasanya adalah orang-orang yang sedang dalam keadaan terburu-buru, maka dari itu banyak konbini yang membuat sistem khusus agar memperlancar proses transaksi. Bagi para orang Jepang sendiri mungkin sudah memahami hal tersebut, tetapi berbeda dengan turis atau pengunjung yang baru pertama kali mampir ke konbini. Melihat Jepang sebagai negara yang menjunjung tinggi etika masyarakatnya, maka ada beberapa hal yang semestinya diperhatikan para turis, termasuk di dalam konbini. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus kalian perhatikan apabila mampir ke konbini di Jepang.

Gunakan nampan yang sudah disediakan untuk pembayaran

Banyak para kasir bercerita kalau pelanggan mereka suka lupa/tidak tahu untuk menggunakan benda ini dalam transaksi, yang mana hasilnya akan menyusahkan para kasir dan memperlama antrian. Berbeda dengan di toko swalayan yang ada di Indonesia, konbini di Jepang lebih sering menggunakan nampan kecil sebagai tempat para pembeli menaruh uang recehnya untuk pembayaran. Transaksi dengan menggunakan uang logam di konbini adalah hal yang pasti ditemui disana. Dengan adanya nampan khusus tersebut, kasir dapat lebih mudah menghitung dan mengambil koin itu dibandingkan jika kita memberikannya secara langsung.

Buang struk belanjaan pada tempatnya

Jangan heran ketika kalian melihat adanya kotak kecil yang terletak di dekat kasir konbini. Seperti nampan koin diatas, kotak ini juga memiliki fungsi khusus dan sering sekali tidak diketahui oleh turis. Fungsi dari kotak ini adalah untuk menampung struk belanjaan yang tidak kalian inginkan. Bayangkan saja, ketika kalian mampir ke sebuah swalayan dan membeli sebotol minuman ringan, struk pembelian tersebut bukanlah benda yang penting untuk kalian bawa. Untuk situasi seperti ini, daripada para pembelinya meninggalkan struk tersebut di kasir, kotak ini akan sangat berguna dan memudahkan para kasir.

Ikuti petunjuk arah dari stiker untuk mengantri

Sewaktu kalian membeli barang, jangan lupa untuk sesekali melihat ke arah lantai. Konbini di Jepang sering sekali memiliki daerah khusus untuk para pembeli yang akan mengantri di kasir, daerah ini biasanya ditandai dengan stiker berlambangkan kaki yang ditempelkan di lantai. Jalur antrian tersebut dibuat dengan memperhitungkan pergerakan keluar-masuk dari para pelanggan yang lain.

Gunakan panel konfirmasi umur

Jepang memiliki peraturan dimana minuman beralkohol dan rokok hanya boleh dibeli oleh orang yang berumur 20 tahun ke atas. Sehingga, ketika kalian ingin membeli kedua benda tersebut, pada beberapa konbini akan ada sebuah panel khusus untuk mengkonfirmasi bahwa kalian sudah berumur 20 tahun atau lebih.

Jangan buang sampah pribadi di konbini

Pada tempat sampah yang kalian temui di konbini Jepang, mungkin terdapat stiker seperti diatas. Walau tulisannya bisa bermacam-macam, tetapi biasanya ada dua kalimat yang selalu ada, yaitu 家庭ごみ (katei gomi) dan お断り (okotawari). Inti dari kedua kalimat tersebut adalah kalian tidak boleh membuang sampah pribadi (sampah dari tempat lain) ke dalam tempat sampah konbini tersebut. Contohnya, ketika kalian membeli satu minuman kaleng di vending machine, kemudian kalian mampir ke konbini untuk membuang kaleng bekas tersebut, ada kemungkinan sampah kalian masih dapat diterima selama sampah tersebut ditaruh di tempat sampah yang benar. Tetapi ketika kalian membawa selusin kaleng bekas kalian dari rumah dan ingin membuangnya di tempat sampah konbini, maka para pegawai konbini tersebut akan menolaknya.

Ketika kalian menjadi turis di Jepang, besar kemungkinan kalian akan dimaafkan karena ketidaktahuan akan beberapa etika disana. Tetapi, alangkah lebih baik jika kalian mempelajarinya terlebih dahulu agar tidak memberi kesan buruk kepada masyarakat aslinya.

2
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
3
angry
Yahya Pambudhi
the authorYahya Pambudhi
Ordinary Anon