Culture JapanJapanese Corner

Inilah Alasan Mengapa “Akihabara” disingkat Menjadi “Akiba”

Dari konsep bencana dan religi, hingga menjadi tempat suci para otaku

Inilah Alasan Mengapa “Akihabara” disingkat Menjadi “Akiba”

IDNation.net – Hampir seluruh otaku atau minimal para penggemar jejepangan mengetahui apa itu Akihabara. Sebuah lokasi unik di Tokyo, Jepang, tempat kalian dapat mengunjungi  berbagai cafe unik,  bermain gachapon sampai keberuntungan kalian habis, atau menikah dengan karakter tampan idaman kalian dalam teknologi virtual reality.

Walaupun begitu, Akihabara tidak selalu berhubungan dengan otaku dan teknologi saja, lho. Apa kalian tahu? Akihabara sendiri menyimpan sebuah cerita sejarah di balik singkatan dari namanya, “Akiba“.

Sebelum abad ke-20, Jepang seringkali harus berurusan dengan bencana kebakaran, terutama di ibu kotanya, Edo (sekarang: Tokyo). Pada zaman itu, rumah-rumah kayu yang dibangun secara berdekatan bisa habis menjadi makanan api hanya dalam hitungan menit. Pada tahun 1600-1855, tercatat ada 14 kebakaran besar di Edo yang merenggut ratusan, atau bahkan sampai ribuan nyawa para penduduknya. Akibat hal tersebut, banyak orang pada masa itu mengatakan, “Api dan perkelahian adalah bunga dari Edo“.

Pada tahun 1869, pemerintahan Meiji akhirnya mulai mengambil tindakan untuk mengatasi bencana kebakaran tersebut. Mereka mendirikan sebuah area khusus anti kebakaran di Edo, area ini dinamakan “Chinkabara” atau yang dikenal dengan Akihabara pada saat ini. Chinkabara sendiri dapat diterjemahkan sebagai “tempat dimana api telah padam“.

Selain itu, pemerintahan Meiji juga memindahkan kuil Akiba Daigongen (Dewa Jepang untuk mencegah kebakaran) dari Enshu (sekarang: Shizuoka) ke Chinkabara. Kata”Akiba” pada nama dewa tersebut memiliki arti “dedaunan Musim Gugur“, atau sebuah ungkapan lain dari “api“.

Karena berlokasi di Chinkabara, kuil tersebut diberi nama “Chinka Jinja” (Kuil Chinka), tetapi karena dewa yang disembah pada kuil tersebut adalah dewa Akiba, maka orang-orang menyebut kuil tersebut sebagai Kuil Akiba. Seiring berjalannya waktu, nama kuil tersebut berubah menjadi “Akiba Jinja“, dan orang-orang mulai menyebut area tersebut sebagai “Akiba“.

Lokasi tersebut sebenarnya memiliki banyak nama lain, beberapa di antara nama tersebut merupakan campuran dari  kata “Chinkabara” dan “Akiba“, seperti, “Akihabara” atau “Akibappara“. Kemudian pada tahun  1890, ketika pembangunan stasiun kereta api memasuki wilayah Chinkabara atau Akiba, nama “Akihabara” akhirnya yang terpilih dan digunakan sebagai nama stasiun tersebut. Walaupun begitu, sampai pada saat ini orang-orang masih sering menyebut lokasi tersebut sebagai “Akiba“.

Begitulah kisah sejarah dibalik nama “Akiba” dalam lokasi unik Jepang ini. Dahulu kala, Akiba sering dianalogikan dengan Api, Kuil, dan Dewa, tetapi pada era modern seperti sekarang, Akiba justru dikaitkan dengan budaya moe seperti maid cafe, otaku, dan semacamnya. Apakah dewa tersebut tidak marah dengan perubahan semacam ini? Well, who knows, pada dasarnya kata Moe sendiri berasal dari kata Moeru (萌える), yang dapat berarti terbakar. Hanya kebetulan? Entahlah, silahkan pikirkan hubungannya sendiri.

 

Source: Soranews24

Yahya Pambudhi
the authorYahya Pambudhi
Ordinary Anon